Halo tamu , Login

Sebuah Terobosan, Poli MDR-TB Kini Ada di Puskesmas

Kelapa gading 2 kelapa gading 1NEWS, CEPAT — Harapan akan adanya poliklinik khusus penyakit tuberkulosis (TB) di puskesmas sudah mulai menjadi kenyataan. Puskesmas Kelapa Gading, Jakarta Utara, kini sudah mulai bisa melayani para pengidap TB, khususnya pasien TB resisten obat (multidrug resistant tuberculosis/MDR-TB). Kelapa gading 2

Upaya ini merupakan salah satu cara mempercepat pemutusan mata rantai penularan TB seperti yang ditargetkan dalam Target Pembangunan Milenium (MDG).

Apresiasi dan dukungan untuk terobosan ini patut diberikan kepada pengelola Puskesmas Kelapa Gading serta kepada para pihak yang memiliki kepedulian tinggi dalam penyediaan poliklinik khusus TB ini. Puskesmas kini harus terus didorong menjadi RS mini yang memiliki fasilitas pemeriksaan kesehatan yang memadai  untuk melayani pasien. Proses pembentukan poliklinik khusus TB di Puskesmas Kelapa Gading tentu tidak mudah. Ada proses yang lumayan panjang yang harus dilalui. Tekad kuat dan visi pentingnya fasilitas yang melayani pasien MDR-TB yang dimiliki oleh pemimpin Puskesmas Kelapa Gading adalah kunci sukses upaya ini.

Seperti diketahui, selama ini pasien MDR-TB, terutama di Jakarta, selalu datang ke RSUP Persahabatan. Hal ini karena hanya di rumah sakit inilah terdapat poliklinik yang khusus menangani pasien-pasien TB. Pasien yang bertempat tinggal jauh tentu menemui kesulitan untuk bisa sampai ke RSUP Persahabatan itu.

Faktor jarak ini berkorelasi dengan ongkos yang mahal yang harus ditanggung oleh pasien setiap kali menjalani perawatan. Ditambah lagi dengan kondisi kemacetan jalan di kota Jakarta tak dimungkiri akan memperparah kondisi si pasien.

Observasi

Keberadaan Puskesmas Kelapa Gading di tengah-tengah perumahan elite tidak menghambat rencana pengelolanya untuk mendirikan Poliklinik MDR-TB. Perencanaannya sudah dimulai sejak Januari 2013. Diawali dengan melakukan observasi dan magang (on the job training/OJT) di RSUP Persahabatan. Hal itu berlangsung saat dr Siti Rahmi menjabat sebagai Kepala Puskesmas Kelapa Gading dan eksekusinya pada masa kepemimpinan dr Dini Indrawati pada April 2014.

Bermodalkan pengetahuan yang diperoleh selama OJT dan menggunakan anggaran Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), Poliklinik MDR-TB Puskesmas Kelapa Gading pun dimulai pada November 2014 dengan perizinan dari Suku Dinas Kesehatan dan Suku Dinas Perumahan Jakarta Utara.

Peresmian

Poliklinik MDR-TB Puskesmas Kelapa Gading secara resmi diluncurkan pada Jumat, 6 Februari 2015 pukul 15.00-17.00. Kegiatan ini menjadi puncak usaha keras pihak Puskesmas Kelapa Gading yang berbuah manis. Hadir pada acara peresmian itu Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara Bambang Suheri, Kepala Puskesmas Kelapa Gading dr Dini Indrawati, para pegawai Puskesmas Kelapa Gading, dan warga sekitarnya.

Peluncuran ini ditandai dengan pemotongan pita di depan ruangan MDR-TB  yang terletak di samping bagian depan Puskesmas Kelapa Gading. Adapun pemotongan pita dilakukan oleh Bambang Suheri.

Pihak Dinas Kesehatan Jakarta Utara, seperti disampaikan Bambang Suheri, menyambut baik terobosan yang dilakukan oleh Puskesmas Kelapa Gading ini. “Kami sangat mengapresiasi semua usaha yang sudah dilakukan dengan wujud pembangunan Poli MDR-TB ini. Kita semua berharap poliklinik ini bisa bermanfaat kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Bambang.

Selain itu, kata Bambang, puskesmas-puskesmas yang lain diharapkan bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh Puskesmas Kelapa Gading. “Dengan begitu, usaha untuk membasmi penyakit TB di Jakarta Utara dan DKI umumnya bisa segera membuahkan hasil,” ujarnya.

Desain Ruang Perawatan dan Peralatan

Dalam sambutannya, dr Dini menyampaikan bahwa pendirian Poliklinik MDR-TB ini adalah salah satu usaha Puskesmas Kelapa Gading untuk mendekatkan pasien asal Kelapa Gading dan sekitarnya sehingga bisa mendapatkan pengobatan segera. Mereka tidak harus pergi ke RS Persahabatan lagi.

“Dari data yang kami dapatkan ada empat pasien MDR-TB di sekitar Kelapa Gading. Mereka sering mengeluh terkait uang transportasi karena pasien tergolong warga miskin,” ujarnya.

Diharapkan, kata dr Dini, dengan didekatkannya akses layanan dengan rumah, pasien menjadi sadar dan bisa teratur minum obat serta peluang sembuh lebih besar dan tidak terjadi penularan kepada warga lainnya.

Selain itu, Poliklinik MDR-TB dipisahkan dari gedung utama untuk mencegah penularan langsung dengan pasien yang lain. Poliklinik dibangun di belakang gedung puskesmas supaya pembuangannya bisa langsung terhubung dengan pengolahan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan alurnya satu arah.

Untuk diketahui, desain ruangan Poliklinik MDR-TB  dibangun ber­dasarkan foto ruangan MDR-TB di RSUP Persa­habatan. Salah satu persyaratan penting adalah adanya jendela kaca yang bisa dibuka penuh. Ventilasi seperti ini akan memudahkan sinar matahari masuk secara langsung sehingga akan dapat membunuh kuman TB.

Poliklinik khusus MDR-TB ini juga dilengkapi dengan peralatan-peralatan khusus pelayanan pasien MDR-TB. Lokasi poliklinik khusus MDR-TB berada di sayap kiri depan gedung Puskesmas, tetapi terpisah dari gedung utama puskesmas.

“Lokasinya berdekatan dengan tempat parkir sepeda motor sehingga memudahkan pasien berkunjung tanpa harus melewati ge­dung atau ruangan yang lain. Hal ini dilakukan guna meminimalisasi kontak antara pasien MDR-TB dan pengunjung lain di Puskesmas Kelapa Gading,” ujar dr Dini.

Tanda Khusus

Selain itu, seperti dijelaskan dr Dini, pasien MDR-TB memerlukan penanganan yang lebih serius. Puskesmas Kelapa Gading melakukan beberapa langkah antisipasi antara lain dengan memberikan kode khusus bagi pasien TB MDR pada formulir pendafta­ran sehingga jika pasien tersebut akan periksa di polik­linik lain, petugas yang memberikan tindakan akan mem­persiapkan diri dengan alat pelindung diri (APD) sehingga tidak tertular.

“Perasaan takut yang dialami sebagian petugas pelayanan TB adalah hal yang wajar. Namun, kita pastikan bahwa para petugas atau pegawai puskesmas aman dengan menggunakan APD, seperti masker, menerapkan pola hidup sehat, dan memperhatikan vitalitas tubuh. Dengan begitu, petugas puskesmas akan terhindar dari penularan TB,” kata Dini.

Selain itu, untuk menghindari kemungkinan penularan, petugas juga melakukan pelayanan dengan waktu seminimal mungkin. “Di ruang perawatan MDR-TB, petugas akan memberikan tindakan berupa penyuntikan dan pemberian obat serta konsultasi singkat. Untuk pencatatan dilakukan di ruang petugas,” kata Dini.

Meskipun demikian, kata Dini, hak pasien untuk mendapatkan pelayanan maksimal tidak akan dikorbankan. (*)