Halo tamu , Login

Sampah Membawa Berkah

Bank Sampah
Berkah apa yang bisa didapatkan oleh pasien TB dari sampah? Mungkin itu pertanyaan yang ada di benak Anda ketika baca judul artikel ini.

Wilayah Kecamatan Koja, yang terletak di Jakarta Utara, tergolong daerah yang padat penduduk dengan pola rumah berdempetan dan berpotensi tinggi masyarakatnya tidak peduli pada kondisi lingkungan. Pada musim panas menyengat seperti sekarang ini daerah itu berdebu. Sebaliknya, pada musim hujan, daerah ini rawan banjir. Untuk diketahui, di Kecamatan Koja ini CEPAT-LKNU ikut berkontribusi dalam pengendalian penyakit TB.

Di tangan Gus In (50), fasilitator komunitas (faskom) CEPAT-LKNU di Koja, sampah menjadi berkah bagi pasien TB sekaligus keluarga-keluarga dan juga buat lingkungan.
Faskom bernama lengkap Iing Solihin ini sudah hampir 1 tahun bergabung di CEPAT-LKNU. Ia membawahi 9 kader untuk Kelurahan Koja dan Lagoa. Selain menjadi faskom, Gus In menjadi Direktur Bank Sampah di Kecamatan Koja.

Ia dipilih dan dipercaya menjadi Direktur Bank Sampah karena jiwa sosialnya yang tinggi serta selalu bekerja tanpa pamrih. Pengakuan para sahabatnya, Gus In tidak selalu berorientasi pada materi. Ia juga sudah lama di Pengurus Cabang (PC) LKNU dan sering mengadakan kegiatan penyuluhan kesehatan dan pengobatan gratis bagi masyarakat.

Memangku tanggung jawab sebagai faskom TB dan juga sebagai Direktur Bank Sampah tak sulit bagi Gus In. Kebetulan, istrinya, Sulistiani Mahdalina, juga bertugas sebagai Kader TB di Kecamatan Koja. Jadi, keduanya bahu-membahu dalam pengendalian TB.

Pria kelahiran Bandung tahun 1965 ini merupakan Faskom yang berprestasi karena ia bisa mengajak masyarakat dan para pasien TB membudayakan pola hidup bersih dan sehat. Para pasien TB diwajibkan menjadi nasabah Bank Sampah dengan mengumpulkan sampah di rumah masing-masing.
Kemudian sampah tersebut dijual di Bank Sampah yang ia kelola. Sampah yang ditampung di Bank Sampah terbagi menjadi 2, yaitu sampah organik (daun, nasi bekas, sayuran) dan sampah non-organik (plastik, botol, kertas).

Hasil dari penjualan sampah disimpan di Bank Sampah dan bisa diambil setahun sekali pada setiap bulan Ramadhan. Selain ditabung, para nasabah Bank Sampah juga diwajibkan infak yang kemudian digunakan untuk mengadakan kegiatan sosial, seperti pemberian nutrisi, sunatan massal, serta membantu pengobatan pasien TB.

Melalui kegiatan Bank Sampah ini, Gus In membantu keperluan pasien TB. Sampai saat ini, sudah terkumpul dana Rp 4 juta dari para nasabah Bank Sampah dan telah digunakan untuk berbagai keperluan.

Upaya untuk membantu pasien TB dan masyarakat di sekitar Kecamatan Koja ternyata juga mendapat dukungan dan perhatian dari perusahaan swasta yang berhasil digandeng oleh Gus In. Bapak dari 3 orang anak ini berhasil menjalin kerja sama dengan 2 perusahan swasta, yaitu Perusahaan Peti Kemas TPK Koja dan Pelindo, yaitu dengan memberikan pembagian nutrisi kepada 40 orang yang dipusatkan di Puskesmas Koja, Kecamatan Koja.

Selain itu, Gus In juga mengadakan sunatan massal pada 14 Juni 2015 dari hasil Bank Sampah untuk 200 anak, 20 di antaranya merupakan anak dari orangtua yang terjangkit penyakit TB.

Membiasakan Hidup Sehat
Bank Sampah dan pasien TB dapat berjalan dengan baik dan beriringan karena para pasien TB diwajibkan menjaga kesehatan lingkungan dan membiasakan hidup sehat. “Saya tidak mengejar keuntungan materi dengan mengelola Bank Sampah. Bisa menolong masyarakat saja sudah menjadi kebanggaan buat saya,” ujar Gus In.

Seperti gayung bersambung, sejalan dengan Gus In, pemerintahan Kecamatan Koja mendukung penuh kegiatan Bank Sampah dan kegiatan CEPAT-LKNU untuk membantu masyarakat yang terjangkit penyakit TB.
Hal itu, disampaikan oleh wakil Camat Kecamatan Koja Budi Santoso. “Saya sangat menyambut baik program dari CEPAT-LKNU untuk membantu masyarakat yang terjangkit penyakit TB, serta mengubah pola pikir masyarakat untuk hidup bersih dan sehat dengan menjadi nasabah Bank Sampah Koja,” ujarnya.

Bentuk dukungan dari Kecamatan Koja yang paling kelihatan adalah adanya posko Bank Sampah yang menempati pojok depan kantor Kecamatan Koja. Tempat pemrosesan sampah organik menempati bagian belakang kantor kecamatan. Kecamatan Koja juga memberikan hadiah berupa sepeda motor untuk keperluan penjemputan sampah keliling, serta modal usaha sebesar Rp 2 juta.

Kegiatan Gus In mengelola Bank Sampah dan aktif menolong penderita TB lama-kelamaan membawa perubahan pada pola pikir masyarakat bahwa sampah adalah bukanlah sesuatu untuk dibuang secara percuma dan sembarangan melainkan bisa diolah dan bisa menjadi barang yang bermanfaat. Kehadiran Bank Sampah juga bisa membantu perekonomian keluarga.

Di sisi lain, pola hidup bersih masyarakat telah membawa lingkungan yang sehat juga sehingga masyarakat bisa terhindar dari berbagai penyakit.
Gus In mengajar tanpa ia harus capai berkata-kata. Ia memberi pelajaran dengan perbuatan. Terbukti, sampah menjadi berkah bagi masyarakat, juga kepada para pasien TB. (*)