Halo tamu , Login

Pertama Kali, Peringatan Hari TB Sedunia di Pesantren

TB day Kempek

CIREBON, CEPAT – Ada yang berbeda dengan pelaksanaan peringatan Hari Tuberkulosis (TB Day) Sedunia pada 2015. Jika selama ini peringatan Hari TB—yang jatuh pada setiap 24 Maret—dilakukan dalam bentuk jalan sehat, panggung hiburan, seminar, pembagian Komunikasi Informasi (KIE), dan dilakukan di lapangan umum, gedung pertemuan, atau hotel, kali ini Community Empowerment of People Against Tuberculosis–Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (CEPAT-LKNU) dilakukan di pondok pesantren pada 30 Maret 2015 dengan melibatkan lebih dari 2.000 santri!

Adalah Pondok Pesantren Yayasan Kyai Haji Aqiel Siroj (KHAS) Kempek, Cirebon, Jawa Barat, dipilih menjadi pusat kegiatan Hari TB Sedunia 2015 CEPAT-LKNU. Rangkaian acara peringatan Hari TB diawali dengan mengajak ribuan santri berbaur dengan masyarakat melakukan jalan sehat bersama mengelilingi Desa Kempek.

Acara jalan sehat yang juga diikuti oleh kader CEPAT-LKNU dari 13 kecamatan di Kabupaten Cirebon dimaksudkan untuk sosialisasi bahwa tanggung jawab memerangi TB adalah tanggung jawab bersama, termasuk para santri di pondok pesantren. Hal ini tentu seiring dengan program CEPAT-LKNU yang berjuang menghapuskan penularan TB melalui jalur organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama. Lewat jaringan NU ini, perang terhadap TB dilakukan dengan menolong masyarakat untuk mengenali gejala TB, menemukan warga yang terduga mengidap TB, membantu warga yang menderita TB, termasuk MDR-TB.

Acara jalan sehat dimulai pukul 08.30. Diawali dengan pengibaran bendera yang dihadiri oleh perwakilan dari Pimpinan Pondok Pesantren KHAS Kempek, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Kementerian Kesehatan, Pengurus Pusat Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (PPLKNU), perwakilan United States Agency for International Development (USAID), dan Koninklijke Nederlandse Centrale Vereniging (KNCV), perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perwakilan puskesmas di Cirebon, perwakilan organisasi profesi, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Cirebon.

Para santri dan para kader CEPAT-LKNU selama sekitar 1 jam menempuh rute lebih kurang 2,5 kilometer. Sepanjang perjalanan, rombongan pawai membawa poster dan spanduk bertuliskan informasi tentang TB. Tidak lupa, selama jalan sehat itu, para kader dan santri membagi-bagikan leaflet secara gratis kepada warga masyarakat.

Bedah Buku

Selain jalan sehat, peringatan Hari TB Sedunia juga diisi dengan acara bedah buku Penanggulangan TB Kupasan Para Kyai, pembacaan fatwa kiai tentang pentingnya jihad melawan TB, dan pemberian penghargaan untuk 9 kader TB terbaik.

Acara bedah buku yang dimoderatori Drs. Hisyam Said Budairi, MSc, menghadirkan Kiai Wawan Arwani, Kiai Ahmad Ishomuddin, Dr Sigit Prohutomo, MPH (Direktur PPML Kemenkes), dan dr. Christina Widaningrum, M.Kes. (Kepala Subdirektorat TB Kemenkes). Sebelum bedah buku tersebut, Arofah, seorang penyintas TB, menyampaikan kesaksian ketika sakit, menjalani pengobatan, hingga sembuh.

Setelah bedah buku, fatwa kiai tentang pentingnya jihad melawan TB mendapat penekanan dari Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH Said Aqiel Siroj, MA. “Rumusan jihad akan mendapatkan relevansinya ketika kita melakukan langkah-langkah aktualisasi seperti penanggulangan penyakit tuberkulosis, yaitu mengupayakan agar masyarakat dapat terhindar dari TB dan mengusahakan agar orang-orang yang sakit TB mau berobat hingga sembuh. Karena itu, pencegahan dan pengobatan penyakit tuberkulosis adalah jihad yang harus dijalankan,” kata Said.

Selain itu, Said mengingatkan semua santri dan hadirin tentang bergeseran jihad yang akhir-akhir ini dimaknai dalam bentuk kekerasan, terutama dengan fenomena yang terjadi di Irak dan Suriah dengan kehadiran gerakan radikal milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Said menegaskan bahwa jihad harus diarahkan pada hal-hal yang positif.

”Apa yang dilakukan ISIS-Wallahi, saya tegaskan, bukanlah jihad. ISIS justru menjelekkan dan merusak Islam,” ujar Said.

Said mengimbau semua pihak untuk bersama-sama berjihad melawan penyakit TB di Indonesia. Hal itu bisa dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terdekat. Ia menegaskan bahwa NU sangat peduli dan konsisten dalam memutus rantai penularan TB.

Ingin Tahu TB

Saat bedah buku berlangsung, salah seorang peserta, Wus’atin Effendi, kelas X Madrasah Aliyah (MA) KHAS Kempek, menyatakan sangat tertarik dengan informasi tentang TB. Hal yang sama juga disampaikan Nurul Fikri Awaliyah, kelas XI MA Khas. Keduanya terlihat aktif menulis hal-hal penting yang mereka dapatkan selama bedah buku di buku catatan mereka.

Wus’atin asal Cirebon mengaku sudah lebih dari 1 tahun mondok di Ponpes KHAS, sedangkan Nurul asal Indramayu sudah 2 tahun. “Saya pengin tahu tentang gejala TB, cara penularan, juga solusi masalahnya,” kata Wus’atin.

Informasi tentang TB yang didapatkan dari bedah buku ditambah dengan leaflet cukup membuka wawasan Wus’atin dan Nurul serta para santri lainnya.

Pimpinan Pondok Pesantren KHAS Kempek KH Muhammad Mustofa Aqiel Siradj, dalam sambutannya, menekankan pentingnya hidup sehat. “Salah satu unsur yang penting dalam agama adalah kesehatan. Untuk itu, ilmu kesehatan (tibb) merupakan ilmu yang wajib untuk dipelajari dan diterapkan dalam hidup,” ujarnya.

Sementara itu, Sigit Priohutomo mengatakan, “Peringatan Hari TB Sedunia kali ini tergolong unik dan langka karena diselenggaran di pondok pesantren. Ini bisa menjadi model yang baik dan pada kesempatan mendatang bisa dilakukan di pesantren lain di Indonesia. Jika barisan NU bisa menyeluruh di seluruh Indonesia, saya yakin penanggulangan TB akan lebih cepat dari target tahun 2050.”

Temukan dan Sembuhkan

Peringatan Hari TB Sedunia 2015 mengusung tema global, yakni “Find, Treat and Cure TB”, yang diterjemahkan dalam tema nasional menjadi “Temukan dan Sembuhkan TB!” Tema ini bertujuan mengajak semua lapisan masyarakat bergerak bersama mendukung pengendalian TB sehingga dunia terbebas dari penyakit TB. Pesan kunci dari tema tersebut adalah semua lapisan masyarakat harus berpartipasi aktif dalam pengendalian TB mulai saat ini.

Jadi, peringatan Hari TB Sedunia kali ini sudah tepat apabila dilakukan di pesantren. Selama ini, pesantren dianggap sebagai tempat membahas masalah agama saja dan jarang membahas masalah kesehatan. Padahal, pondok pesantren memiliki peran yang besar untuk memberikan pengetahuan dan pencerahan bagi masyarakat.

Minum obat sampai tuntas dan keterlibatan semua pihak dalam pengendalian TB masih terus perlu dilakukan demi terciptanya Indonesia bebas TB dan peran itu salah satunya bisa dilakukan dengan baik melalui pesantren. (*)