Halo tamu , Login

Menghilangkan Efek Samping Obat TB-MDR ala Joni

 

????????????????????????????????????

Joni, Mantan Pasien TB MDR, (HR)

Joni (35), pasien TB-MDR, berprofesi sebagai nelayan. Ia sudah menekui profesi sebagai nelayan selama 20 tahun terakhir. Meskipun terus melaut, proses pengobatan terus Joni jalani. Setiap hari selama 16 bulan ia harus menjalani “ritual” disuntik dan minum obat guna membebaskan dirinya dari penyakit TB.

Profesinya sebagai nelayan inilah membuatnya kuat dan bisa mengatasi hari-harinya selama menjalani pengobatan. Terbayang sudah efek samping obat yang dialami Joni. Ia setiap hari berjuang melawan pusing, rasa mual yang hebat, gangguan mendengung di telinga, serta badan meriang sesaat setelah minum obat dan disuntik. Ini kondisi yang paling tidak mengenakkan dalam hidup Joni.

Namun, berita baiknya, Joni menemukan cara sendiri mengatasi masalahnya. Pekerjaannya melaut itu justru membuat ia “terbebas” dari efek samping obat yang menggorogotinya. Setelah meminum obat dan disuntik, Joni segera bersiap “menyembuhkan dirinya sendiri” dengan melaut. Begitu setiap hari. Ia alihkan pikirannya mengayuh perahunya, menebar jaring, serta menikmati terpaan mentari yang menghangatkan tubuhnya. Selain itu, ia juga memilih melewatkan waktu dengan membuat jaring.

“Saya kalau habis minum obat mendingan langsung melaut dan kena sinar matahari, badan terasa lebih segar. Kalau dibawa tiduran malah nambah pusing. Selain itu, 2 bulan sekali saya harus pergi ke Rumah Sakit Persahabatan untuk pemeriksaan kultur dan cek BTA,” kata Joni, saat disambangi tim CEPAT-LKNU di rumahnya di bilangan Cilincing, Jakarta Utara, pertengahan Agustus 2015.

Di dalam rumah dengan lantai tidak diplester terlihat anak kecil berumur 10 tahun bernama Amar sedang merajut jaring. Tangan kecilnya begitu lincah membuat jaring dengan menggunakan coban, srampan, dan tambang ris (alat membuat jaring) untuk menangkap ranjungan dan ikan. Joni ternyata sudah terbiasa mendapat bantuan dari anak keduanya itu.

Joni mengaku, semangat hidupnya terus terpacu melihat Amar yang juga membantu dirinya meringankan bebannya untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga. “Dibutuhkan sekitar 2 hari menyelesaikan satu jaring dan setiap jaring tersebut bisa bertahan sampai 15 hari,” kata Joni saat menerima kedatangan tim CEPAT.

Profesi nelayan yang ditekuni Joni membentuk diri Amar, yang kelihatannya akan juga mengikut jejak ayahnya. Meskipun begitu, Joni berharap anaknya bisa juga sekolah tinggi. “Jangan seperti saya yang hanya sekolah sampai kelas V SD,” ujar Joni.
Lewat ceritanya kepada tim CEPAT, Joni mengaku saat masih anak-anak atau menjelang dewasa ia kurang memperhatikan kesehatannya. “Saya menjalani kehidupan bebas dan kurang sehat, suka minum-minuman keras, serta merokok. Barangkali dari gaya hidup seperti itu, saya tertular TB dari salah satu teman yang menderita TB,” kata Joni.

Sejak Februari 2014, suami dari Desi Susilawati ini dinyatakan menjadi pasien TB-MDR. Gejala awalnya, yaitu muntah darah, dada sesak, dan batuk terus-menerus. Pada tahap awal, Joni menjalani pengobatan suntik setiap hari selama 6 bulan di puskesmas satelit PKM Kecamatan Cilincing. Joni mengakui, bukan hal yang mudah ketika menjalani pengobatan suntik.

Di awal masa pengobatannya, Joni hanya menjalani pengobatan tradisional dengan minum air kunyit. Pada 4 bulan awal pengobatan, Joni tidak bisa melakukan kegiatan apa pun. Dia hanya terbaring di rumah sehingga tidak ada pemasukan apa pun untuk membiayai keluarganya.
“Sempat ada sedikit keretakan rumah tangga karena masalah ekonomi ini. Namun, karena dorongan semangat dalam diri dan keluarga saya, akhirnya saya bangkit kembali dan mulai melaut serta membuat jarring,” ujarnya.

Sekitar Pelabuhan
Ayah tiga anak ini setiap pukul 4 subuh selalu terlihat pergi melaut di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Akan tetapi, kadangkala ia melaut hingga Muara Gembong, Bekasi, terutama ketika limbah pembuangan pelabuhan kontainer Tanjung Priok sudah mulai menggila.

Menggunakan perahu kecilnya, Joni sering melaut sendiri, tetapi kadangkala ditemani anak keduanya, Amar. Kembali mendarat ke pelabuhan sekitar pukul 8 pagi. Biasanya dia melaut 6 hari dalam seminggu dengan membawa hasil melaut, seperti ranjungan, kepiting, udang, ikan koro, dan ikan kiper-kiper. Setiap hari, Joni membawa pulang 5-10 kilogram hasil tanggapan.

“Penghasilan dari melaut per hari sekitar 100.000, tergantung dari cuaca dan angin laut. Penghasilan yang didapat dikurangi dengan biaya untuk membeli solar sekitar 30.000. Biasanya hasil dari melaut langsung dijual ke tempat pelelangan ikan di sekitar pelabuhan,” kata Joni.
Selain melaut dan membuat jaring, Joni kadangkala juga bekerja di tempat perebusan kijing atau kerang hijau di pesisir Pelabuhan Kalibaru.

Berat Badan Cepat Naik
Setelah menjalani pengobatan selama 16 bulan dan telah memasuki konversi atau tahap lanjutan, kondisi Joni kini mulai membaik. Menurut kader TB MDR Cilincing, Yayat, “Pak Joni itu orangnya supel, periang, dan cuek tetapi tanggung jawab terhadap keluarga. Di antara pasien lain, dia paling cepat naik berat badan dan masa pengobatanya.”

Kini, setiap 2 hari sekali Joni mengambil obat di Puskesmas Kalibaru, Kecamatan Cilincing. Bahkan, berat badannya naik drastis menjadi 56 kg. Selain menjalani pengobatan yang rutin, menjaga pola makan, olahraga dan motivasi dalam diri yang kuat. “Intinya dukungan dari keluarga dan motivasi diri sendiri, berobat itu penting dan sehat itu penting,” pungkas Joni. (*)