Halo tamu , Login

Gerak Cepat Menolong Pasien TB

jakarta pusat

INFO KADER, CEPAT — Seorang ibu tergeletak lemah di atas kasur di sebuah kontrakan sederhana di RT 004 RW 007 Kelurahan Karet, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Melihat kondisi tubuhnya yang lemah, sering batuk-batuk, diduga perempuan paruh baya itu mengidap penyakit TB. Gerak cepat masyarakat, terutama kader dan fasilitator komunitas CEPAT-LKNU, membuahkan hasil dengan memberikan harapan bagi si ibu untuk bisa sembuh lewat perawatan secara medis.

Pada 3 Desember 2014, tokoh masyarakat setempat, Sukardi, menyampaikan informasi kepada salah seorang kader CEPAT-LKNU yang berdomisili di wilayah itu, Juju, tentang warga yang membutuhkan pertolongan. Informasi yang didapatkan, perempuan malang itu sudah tidak bisa berjalan.

Mendengar informasi itu, Juju langsung merespons dengan berkoordinasi kepada fasilitator komunitas (faskom) CEPAT-LKNU Agus Heryanto lewat telepon seluler. Koordinasi ini diperlukan untuk bisa segera menindaklanjuti informasi yang ada.

Setelah berkoordinasi, kader dan faskom CEPAT-LKNU segera turun ke lapangan. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan informasi tentang warga yang terduga mengidap TB berdasarkan informasi awal yang didapatkan dengan menemui ketua RT setempat.

Tempat Tinggal Kurang Layak

Setelah bertemu dengan pihak RT setempat, diperoleh data, nama perempuan tersebut adalah Sulastri. Dia tidak memiliki kartu tanda penduduk serta tidak mempunyai uang untuk transportasi ke rumah sakit. Selama ini tidak pernah menjalani pemeriksaan di rumah sakit atau di puskesmas.

Saat tiba di rumah Sulastri, kader dan faskom CEPAT-LKNU menyaksikan bahwa kondisi rumah kontrakan yang ditinggali Sulastri tampak tidak layak dan tidak memenuhi standar kesehatan. Selain itu, rumah kontrakan berukuran 3 meter x 3 meter itu dengan lantai ubin dihuni oleh 4 orang. Ini artinya, potensi penularan penyakit Sulastri kepada penghuni lainnya sangat tinggi.

Tanpa mengulur waktu lagi, kader dan faskom CEPAT-LKNU bertindak cepat dengan mengajak Sulastri berobat pada 4 Desember 2014. Persoalan pertama yang dihadapi adalah Sulastri tidak memiliki KTP DKI.

Namun, dengan bantuan ketua RT, RW, dan tokoh masyarakat setempat, KTP Sulastri pun akhirnya bisa diurus. Bermodalkan surat keterangan pembuatan KTP serta bioadata kartu keluarga, Sulastri bisa berobat ke Puskesmas Tanah Abang untuk tes darah dan dahak. Hasil tes darah dan dahak mengindikasikan Sulastri positif mengidap TB.

Mengetahui hasil tes darah dan dahak Sulastri positif itu, CEPAT-LKNU segera membawanya ke Puskesmas Menteng untuk menjalani rontgen. Akan tetapi, Sulastri menolak karena merasa mual, pusing. Tidak itu saja, Sulastri ini juga memiliki temperamen tinggi.

Diskriminasi
Sekembali dari pemeriksaan di Puskesmas Tanah Abang, Sulastri menghadapi masalah lain yang tak kalah memilukan. Sulastri harus segera meninggalkan kontrakan yang selama ini ia tinggali bersama 3 anggota keluarganya yang lain. Si pemilik kontrakan berdalih, rumah kontrakan—yang sebenarnya masih terlihat kokoh itu—akan segera direnovasi.

Ibarat pepatah, sudah jatuh, lalu tertimpa tangga pula, itulah kondisi yang dialami Sulastri ketika itu. Ia divonis positif mengidap TB dan akibatnya ia harus meninggalkan rumah kontrakannya.

Tidak dimungkiri, alasan pemilik kontakan akan segera merenovasi rumah yang ditinggali Sulastri, merupaka alasan yang dibuat-buat. Alasan sebenarnya adalah karena Sulastri positif mengidap TB.

Keadaan seperti ini, bagi kader dan faskom, adalah hal yang sering dialami para pengidap TB di mana pun. Masyarakat sekitar cenderung bersikap diskriminatif terhadap pengidap TB. Berbagai macam alasan yang diberikan, seperti takut tertular dan ada anggapan bahwa pengidap TB tersebut adalah sesuatu penyakit yang harus dijauhi karena sangat berbahaya.

Kenyataan inilah yang dialami Sulastri. Ia terpaksa berpindah-pindah rumah dengan tetap membawa penyakit TB yang berpotensi menular. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Kembali kader dan faskom CEPAT-LKNU tidak tinggal diam. Mereka bergerak cepat dengan meminta bantuan pihak Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) untuk meminjam ambulans dan membawa Sulastri ke Puskesmas Menteng untuk menjalani pemeriksaan rontgen.

Dari Puskesmas Menteng dilanjutkan ke Rumah Sakit Tarakan karena kondisi Sulastri sudah semakin lemah dengan HB 5,5. Untuk berobat di RS Tarakan dibutuhkan biaya sampai Rp 15 juta. Biaya sebesar itu tentu di luar kemampuan Sulastri dan keluarga untuk membayar.

Berkat bantuan warga dan tokoh masyarakat, serta PCNU, Sulastri pun bisa terdaftar sebagai penerima Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) agar mendapat pelayanan rumah sakit secara gratis saat berobat. Sulastri terbebas dari semua biaya selama berobat di RS Tarakan. Hingga artikel ini ditayangkan, Sulastri terus menjalani pengobatan TB.

Kini peran kader dan faskom CEPAT-LKNU terbukti sangat diperlukan dalam menjalankan tugas memutus rantai penularan virus TB. “Saya bicara soal kemanusiaan. Siapa yang tidak tergerak hatinya saat melihat ada orang yang dalam kondisi lemah perlu bantuan? Itulah hakikat kehadiran CEPAT-LKNU. Saya ingin melihat orang yang sehat, bukan orang yang sakit,” kata Agus Heryanto. (*)