Halo tamu , Login

Analis TB Sebagai Ujung Tombak Program TB

????????????????????????????????????

Ade Suhenda, Analis TB Puskesmas Limo, Depok (HR)

 

Analis TB di Puskesmas merupakan ujung tombak terlaksananya program TB. Saat ini beberapa Puskesmas masih belum memiliki analis, sekalipun di tingkat  Kecamatan. Puskesmas Limo, Kota Depok memiliki analis TB sekitar 1,5 tahun yang lalu atas usulan Program CEPAT-LKNU.

“Analis TB memang paling pokok untuk program TB. Dokter melakukan skrining suspek, namun ujung tombak hasil ada pada analis. Orang didiagnosis TB merupakan hasil analisa dari analis TB,”  demikian penjelasan Rony (42 th), panggian akrab untuk Biaunillah, Wasor TB Kota Depok, ketika berbincang-bincang dengan CEPAT-LKNU pada bulan puasa 2016.

Wasor TB Kota Depok itu menegaskan bahwa analislah yang menentukan diobati atau tidaknya pasien TB. Dokter tidak bisa memberikan diagnosis jika belum ada hasil laboratorium dari analis. Melihat pentingnya peran analis TB, sejak awal tim CEPAT-LKNU telah mencoba mendesak Dinas untuk pengadaan analis TB untuk Puskesmas Limo.  Kebutuhan ini segera ditangkap oleh Dinas Kesehatan Kota Depok. Puskesmas Limo merupakan Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM), sehingga merekrut analis TB secara swakelola. Maka, sejak Februari 2015, analis TB mulai bekerja di Puskesmas Limo.

Saat ini, analis Puskesmas Limo belum dilatih, namun sudah memiliki dasar pengetahuan sebagai analis. Untuk membuktikan validitas hasil analisis, sample BTA akan diteliti secara silang tiap triwulan di laboratorium intermediate dengan syarat tidak boleh ada major error lebih dari 5%. Dari sekian banyak sample yang dikirim PKM Limo hanya ada 1 major error atau dibawah 1%.

Programmer TB Puskesmas Limo, dr. Mitha, dengan lugas menyampaikan bahwa sebelumnya Puskesmas Limo mengalami kesulitan untuk memastikan bahwa pasien yang diberi surat rujukan akan melanjutkan pemeriksaan atau tidak “Dengan adanya analis TB, akan lebih cepat penemuan kasusnya, dan diagnosisnya lebih mudah, Selain itu, secara programatik, adanya analis mempermudah programer dalam merekap data karena data tersedia di bagian laboratorium. Adanya analis TB sangat menguntungkan bagi programer TB.” pungkas dr. Mitha.

Dari sisi pemberdayaan masyarakat, hal itu juga dirasakan oleh kader. Kader TB CEPAT-LKNU merasakan sekali perbedaan sebelum dan sesudah adanya analis di Puskesmas Limo. Dinyatakan oleh Mahwari yang mengalami situasi ketika suspek TB harus melakukan pemeriksaan dahak di RSUD. Pasien harus bolak-balik sampai 3 kali ke RSUD yang jaraknya lebih jauh dari rumah untuk melakukan pemeriksaan. Sehingga, banyak pasien yang akhirnya tidak melakukan pemeriksaan.

“Saat ini, jika menemukan suspek, saya lebih ringan membantunya karena jarak lebih dekat dari rumah dan juga pot dahak bisa diambil oleh keluarga atau kader,” ujar Mahwari gembira.

Menutup perbincangan tentang pentingnya analis TB, Ade Suhenda – yang bertugas sebagai analis TB di Puskesmas Limo menuturkan, “Menurut saya keberadaan analis sangat penting, Adanya analis dapat mengaktifkan laboratorium di Puskesmas sehingga dapat mempermudah masyarakat jika ingin periksa apapun.” (Elina/Jakarta)