Halo tamu , Login

Anak Yatim Itu Tetap Semangat Melawan TB-MDR

angga

Melawan penyakit TB-MDR memang dibutuhkan semangat ekstra. Apa yang dilakukan oleh Angga Arnoldi (26), pasien TB-MDR di Cilincing, Jakarta Utara, patut menjadi inspirasi bagi pasien TB lainnya.

Sekilas Angga tidak bisa dibedakan dengan Anggi Renaldi, saudara kembarnya. Ya, mereka memang terlahir sebagai kembar identik. Potongan rambut dan raut wajah mereka persis sama. Hanya, Angga terlihat lebih kurus ketimbang Anggi.

Pada waktu sekolah menengah pertama (SMP) Angga pernah terkena TB regular atau flek. Ia tertular ibunya yang juga terkena penyakit TB dan kini telah dipanggil Tuhan-Nya. Angga sebenarnya pernah dinyatakan sembuh. Namun, ia pernah tidak melanjutkan pengobatan karena kurangnya informasi serta pengetahuan sehingga akhirnya terkena penyakit TB-MDR.

Sejak ditinggal ibu tercinta saat masih kecil, Angga dan Anggi dirawat oleh nenek mereka, Noerita (76). Ayah mereka kini bekerja di daerah Karawang, Jawa Barat. Kasih sayang nenek Noerita buat cucu kembarnya turut membuat semangat Angga melawan virus TB makin tinggi. Angga mulai menjalani pengobatan sejak Februari 2014 sebagai pasien TB-MDR.

Pada tahap awal, Angga menjalani pengobatan dengan cara disuntik setiap hari di Puskesmas Semper Timur, sekarang menjadi Rumah Sakit Kecamatan Cilincing, selama 9 bulan. Angga memasuki konversi di bulan ke-5 dan sekarang sudah memasuki tahap lanjutan, yaitu pengobatan tidak melalui suntik, tetapi cukup meminum obat saja.

Diakui Angga, bukanlah hal yang mudah untuk menjalani hari-harinya sebagai pasien TB-MDR. Tantangan terberat adalah menghadapi efek samping dari obat. Angga tentu tidak sendiri. Hal yang sama juga dialami oleh semua pasien dengan penyakit yang sama. Hanya setiap pasien punya cara sendiri-sendiri untuk mengelola efek samping yang mereka hadapi.

“Biasanya saya kalau abis minum obat terus mual atau pusing. Saya mengalihkannya dengan cara mengunyah makanan. Biasanya, nanti sedikit demi sedikit rasa mualnya berkurang. Cara lain, ya, dengan naik sepeda itu. Badan jadi terasa sehat dan segar,” ujar Angga seperti dituturkan Kader TB-MDR CEPAT-LKNU, Yayat.

Hobi akan gowes sepeda membawa berkah tersendiri bagi diri Angga. Walaupun menjadi pasien TB-MDR, Angga melakukan kegiatan seperti pemuda lainnya. Dia sering menyalurkan hobinya yaitu bersepeda di hampir setiap minggu. Setiap acara hari bebas kendaraan (car free day) Angga bersepeda bersama teman-temannya ke Monas ataupun ke Bundaharan Hotel Indonesia. Angga biasa mengayuh sepedanya dari Semper Barat, Cilincing, ke lokasi-lokasi cukup jauh, termasuk ketika ada acara-acara besar ke Gelora Bung Karno (GBK).

Perhatian Keluarga
Perhatian dari keluarga, yakni nenek dan tantenya, serta dukungan dari tetangga dan teman sebayanya, juga membuat Angga tetap bersemangat dan merasa memiliki orang yang memperhatikan dirinya untuk sembuh dari TB-MDR.

Angga senang, meskipun divonis menderita TB-MDR, ia masih tetap bisa bergaul dengan teman-teman sepermainnannya tanpa hambatan. Anggilah sahabat utama dan terdekatnya. Namun, Angga tetap menyadari bahwa ia tetap menjaga agar dia tidak menjadi sumber penularan berikutnya. Ia tetap menggunakan masker serta tidak membuang dahak sembarangan.

Nenek Noerita bisa dibilang adalah orang yang paling dekat dengan Angga dan Anggi. Kepada tim CEPAT-LKNU sang nenek Noerita menyatakan bahwa ia selalu mengingatkan Angga agar tetap bersemangat supaya lekas sembuh.
“Saya sering mengingatkan Angga untuk makan teratur. Dia itu suka begadang, susah diingetin-nya,” ujar Nenek Noerita. Meskipun begitu, Noerita terus melakukan yang terbaik buat cucu kesayangannya.

Dukungan keluarga dan tetangga inilah yang membuat Angga selalu ceria dan semangat menjalani pengobatannnya. “Saya tak bisa melupakan kasih sayang nenek. Meskipun saya kehilangan ibu, tetapi ada nenek yang terus menyayangi kami,” kata Angga.
Setiap 2 bulan sekali Angga harus mengecekkan BTA dan kultur ke Rumah Sakit Persahabatan dan setiap hari ia mengambil obat di Puskesmas Kalibaru menggunakan sepeda motor miliknya.

Siang itu di depan rumah mereka yang sederhana, di Cilincing, Angga dan Anggi terlihat sibuk sambil bergurau memperbaiki sepeda motor milik Angga yang sudah rusak.
“Sepeda motor ini yang memudahkan saya, terhindar dari kemacetan setiap hari untuk mengambil obat di puskesmas. Saya tidak perlu lagi keluar ongkos juga untuk naik angkot,” kata Angga kepada tim CEPAT-LKNU yang menyambangi rumah kediaman mereka di Cilincing.

Pantang Menyerah
Angga tak pernah menyerah untuk sembuh dari TB-MDR. Ia terus menjalani pengobatan dengan teratur sesuai yang ditentukan. Setelah menjalani pengobatan selama 16 bulan, Angga merasakan perubahan yang sangat signifikan. Pada awal sakit, Angga sangat susah bernapas sehingga harus menggunakan bantuan tabung oksigen.

Pengalaman inilah yang ingin ditularkan Angga kepada teman-temannya sesama pasien TB-MDR. “Saya berharap jangan pernah sedih ataupun berkecil hati, kalau kita berobat dan minum obat teratur pasti akan sembuh,” ujar Angga.

Mencari kesibukan yang menghasilkan menjadi pilihan Angga dan itu sangat positif untuk membantu kesembuhannya. Dulu ia pernah berjualan batu akik selama 3 bulan, tetapi karena kurang peminat akhirnya usahanya pun gulung tikar.

Namun, pemuda kelahiran 5 Mei 1989 ini banting setir dengan kesibukan lainnya, yakni usaha membudidayakan lele di rumahnya. Ia Bekerja sama dengan temannya. Walapun keuntungan yang diperoleh belum banyak, tetapi setidaknya dia senang karena mempunyai kegiatan yang bisa menghasilkan. Setiap 4 bulan sekali Angga memanen lele, kemudian dijual kepada tetangga. Angga bisa menjual 7 ekor lele seharga Rp 20.000.
Selain itu, penghasilan lainnya juga ia peroleh dari jasa membantu teman memperbaiki sepeda motor ataupun mengecat sepeda motor temannya dengan upah Rp 200.000 per sepeda motor yang dicat.

Dengan adanya dampingan dari Kader TB MDR CEPAT-LKNU, Bu Yayat, Angga merasa sangat terbantu. “Dengan adanya dampingan dari Bu Yayat, saya sangat terbantu dengan memberikan informasi lebih untuk sembuh dari TB MDR,” ujarnya.

Yayat selaku kader TB MDR CEPAT-LKNU Cilincing mengaku senang bisa membantu Angga untuk berjuang melawan TB. “Saya adalah sahabat buat Angga. Dia itu punya semangat yang tinggi dan bisa menularkan semangatnya tersebut kepada pasien lainnya,” kata Yayat. Cepat sembuh Angga!