Halo tamu , Login

Sri Nani, Kader TB Tangguh dari Cirebon

 

Foto Cirebon

Menjadi kader dalam program memberantas penyakit menular tuberkulosis (TB) bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Namun, karena semangat ingin membantu sesama serta ingin menambah teman dan saudara, betapapun banyakny
a tantangan, Sri Nani, kader TB di Plaosan, Desa Sampiran, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat,  ini tetap semangat dan tak pernah menyerah.

Plaosan merupakan salah satu dusun di Desa Sampiran yang agak terpencil dan termasuk daerah perbukitan. Jika hendak menuju Plaosan, kita harus melewati jalan yang di sisinya terdapat lembah curam, cukup memacu adrenalin bagi yang tidak biasa melaluinya. Bagi Sri, ini sudah menjadi menu sehari-hari.

Sri dilahirkan di Kecamatan Palimanan 44 tahun lalu, tetapi sejak menikah dengan suaminya kini dia tinggal di Plaosan. Sri yang lulusan SMP Klangenan ini sudah menjadi kader pos pelayanan terpadu (posyandu) dan aktif di Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sejak tahun 2007. Awalnya, ia diajak oleh perangkat desa untuk menimbang bayi di posyandu, tetapi karena jiwa sosialnya yang tinggi, Sri ikut aktif mengajak ibu-ibu dalam program Keluarga Berencana (KB) dan kegiatan-kegiatan PKK.

Di sela-sela kesibukannya sebagai kader posyandu, pada Juli 2014, ibu dari tiga anak ini mengikuti pelatihan kader TB CEPAT-LKNU di Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Ciperna. Setelah resmi menjadi kader CEPAT-LKNU, Sri bertambah aktif. Berbagai kegiatan yang dilakukan sebagai kader TB, antara lain sosialisasi TB di pengajian bulanan di desanya, sosialisasi TB pada saat rapat koordinasi desa (rakordes), pencarian suspek dengan cara berkunjung ke rumah-rumah, dan pendampingan pasien TB.

Sri menangani dua desa, yakni Desa Sampiran dan Desa Sarwadadi. Secara topografi, dua desa ini berbukit sehingga letak satu rumah dengan rumah yang lain berjauhan karena terhalang sawah dan lembah. Meskipun demikian, semangat Sri sebagai kader TB tidak pernah surut.

“Saya senang sekali menjadi kader karena bisa bersilaturahim, nambah temen dan saudara. Bisa membantu orang lain, lebih-lebih kalau memang suspek yang saya dampingi adalah orang yang tidak berpunya. Saya rela ngasih ongkos ojek atau nyuruh anak saya menggunakan sepeda motor mengantarkan ke puskesmas karena saya tidak bisa mengendarai sendiri.”

Ada suka dan duka yang Sri rasakan selama menjadi kader TB. Pengalaman duka yang pernah dihadapi Sri pada saat pencarian suspek, yakni ketika ada suspek perempuan yang tiba-tiba membanting pintu rumahnya waktu ditemui karena merasa malu memiliki gejala TB. Namun, dengan sikap welas asih-nya, Sri menghadapi dengan sabar dan legowo. Sri mengambil kesempatan itu untuk mengobrol masalah TB dengan suami si suspek. Alhasil, keesokan harinya suspek perempuan tersebut datang ke rumah Sri bersama suaminya untuk meminta maaf dan mau mengikuti saran Sri untuk memeriksakan dahaknya ke Puskesmas Ciperna.

Pengalaman duka lainnya pada saat pendampingan pasien TB laki-laki. Sri yang rutin berkunjung selama enam bulan di rumah pasien TB itu tidak pernah ditemui istri pasien. Apabila pasien TB yang dikunjunginya itu belum sampai rumah karena bekerja di sawah, Sri akan menungguinya di luar rumah sendirian dan tanpa ditemui oleh istrinya. Berkat keuletannya, Alhamdulillah, sekarang pasien TB itu sudah sembuh karena mau berobat sampai tuntas. Sebagai rasa terima kasih, kakak dari mantan pasien TB itu memberikan pinjaman modal usaha kepada Sri. Modal tersebut digunakan untuk belanja peralatan kebersihan yang diperdagangkan suaminya di Jakarta. Hingga sekarang, rasa persaudaraan antara keluarga mantan pasien dan kader TB semakin erat.

Selama 15 bulan menjadi kader TB CEPAT-LKNU, Sri mendapatkan 28 suspek dan 16 pasien dengan basil tahan asam (BTA) positif. Di antara 16 BTA positif itu terdapat 10 orang yang tuntas pengobatan, 4 orang yang masih didampingi pengobatannya. Ada dua orang yang gagal karena putus obat akibat efek samping dari obat TB, berupa pusing atau sakit kepala berlebihan. Sebenarnya Sri sudah membujuk pasien TB tersebut untuk konsultasi ke puskesmas, tetapi pasien TB itu menolak. Pasien ini malah beralih berobat alternatif kepada mantan petugas PKM yang kini buka praktik secara tidak resmi dan harus membeli obat sendiri.

Kasus lain terjadi pada pasien TB yang  pedagang tahu gejrot. Pasien TB itu tidak mau melanjutkan minum obat TB karena merasakan efek samping obat sehingga membuangnya di kolong tempat tidur. Sri sebagai kader yang tangguh sudah beberapa kali berkunjung ke rumah pasien TB tersebut. Namun, sayang sekali, Sri belum pernah bisa bertemu dengan pasien TB yang bersangkutan.

Di balik berbagai tantangan itu, Sri banyak belajar tentang arti kesabaran dan keikhlasan.”Saya ikhlas menghadapi pasien dengan berbagai macam sifat, demi masyarakat bebas TB. Apa pun masalahnya saya terima dengan sabar,” pungkasnya. (Watiah, Cirebon)