Halo tamu , Login

Pendampingan Pasien TB-MDR ala Yayat

IMG_1060

Rukmiyati (50), biasa dipanggil Yayat, merupakan kader Posyandu Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara. Aktivitasnya sebagai kader posyandu sudah digelutinya sejak puluhan tahun lalu. Pengalamannya mendampingi warga untuk menyukseskan program pemerintah tak diragukan lagi.

Setahun terakhir, Yayat bergabung menjadi kader pendukung di CEPAT-LKNU sebagai pendamping pasien TB resisten obat atau TB-MDR di sekitar domisilinya. Yayat dinilai cukup berhasil dalam melakukan pendampingan karena ia berani membuat metode sendiri dan terbukti efektif.

Sebagai kader pendukung, Yayat mempunyai rutinitas, yakni mendampingi pasien, termasuk melakukan kunjungan ke rumah pasien. Bagi Yayat, pendampingan tidak cukup dilakukan terbatas kepada pasien saja, tetapi anggota keluarga dan tetangga si pasien harus didampingi serta diberi edukasi.

“Saya selalu berusaha mendekati keluarga pasien agar juga berperan aktif memberikan dukungan kepada pasien sehingga program penyembuhan bisa berhasil,” ujar Yayat.

Pengalaman yang cukup banyak membuat Yayat terbiasa dengan kondisi yang dialami pasien TB, terutama yang sudah resisten obat (TB-MDR). Pasien TB selalu saja mendapatkan respons kurang baik dan penolakan dari orang-orang di sekitarnya. Pasien dianggap sebagai ancaman yang harus segera dijauhi karena bisa menularkan penyakitnya kepada orang lain di sekelilingnya. Ironisnya, penolakan ini pun bisa dilakukan oleh keluarga si pasien sendiri.

Sikap apatis masyarakat yang menjauhi pasien TB cukup menghambat setiap usaha pengobatan yang sedang dilakukan. Penolakan dari masyarakat memengaruhi kejiwaan pasien dan mendorong keputusaan sehingga terkadang pengobatan terhambat dan gagal.

“Anggota keluarga si pasien wajib diberi pemahaman dan edukasi secara terus-menerus. Bahkan, tidak saja anggota keluarga pasien, para tetangga di sekitar rumah pasien juga saya ajak mengobrol seputar penyakit TB. Selain itu saya juga menjadi teman curhat si pasien. Pasien merasa bebas berkeluh kesah kepada saya terhadap setiap apa yang dialaminya,” ujar Yayat.

Ibu dua anak ini mendampingi enam pasien di wilayah Cilincing. Jarak rumah keenam pasien TB-MDR ini cukup jauh dari tempat tinggalnya. Hal itu tidak mengendurkan semangat Yayat. Hingga kini Yayat terus melakukan kunjungan rumah kepada keenam pasien dampingannya.

Pengamatan

Sebelum memulai aktivitasnya untuk mendampingi pasien, Yayat terlebih dahulu melakukan pengamatan. Layaknya seorang “ahli antropologi”, Yayat terlebih dahulu mengumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai kondisi pasien, termasuk bagaimana penerimaan keluarga serta warga di sekeliling rumahnya.

Dalam satu kesempatan, Yayat mengamati aktivitas pasien seperti saat sedang pergi ke warung atau tukang bakso yang ada di ujung gang. Ia mencatat apa saja yang ia lihat saat pengamatan tersebut. Dari pengamatannya itu, Yayat menyimpulkan bahwa ada stigma yang harus dikikis di tengah-tengah masyarakat tentang pasien TB.

“Pasien itu kan juga korban. Kita kan gak tahu, mungkin dia ketularan dari rumah sakit atau di mana, jadi jangan dijauhin. Yang penting kita tahu, cara pencegahannya,” katanya. Hal ini menjadi senjata bagi Yayat guna memberikan pengertian sehingga pasien diterima oleh tetangganya.

Dengan kepiawaian yang dimiliki, perempuan kelahiran Jakarta ini diberi tanggung jawab sebagai Ketua Kader Kelurahan Cilincing. Ia tak jarang memberikan sosialisasi mengenai TB di lingkungannya.

Gaya penyuluhan Yayat yang serba praktis dan jauh dari teori—yang terkadang kurang dimengerti oleh awam—ternyata ampuh dan bisa berterima kepada masyarakat. Yayat menerapkan “ilmu” yang ia miliki sebagai guru pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam memberikan penyuluhan.

“Saya kan enggak bisa mengajar seperti dokter. Jadi, kalo penyuluhan, saya bikin cara sendiri, kayak pake potongan kertas gitu modelnya. Potongan kertas saya tulis ‘Penularan TB’ atau ‘Gejala TB’ . Lalu penyuluhannya pake kelompok gitu. Kemudian saya tanya: ‘Coba siapa yang bisa cari gejala TB, …” ujarnya menjelaskan. Ia mengaku, cara itu sangat efektif dan membuat warga bisa langsung memahami apa yang ia sampaikan.

Berbasis Masyarakat

Yayat menerapkan teori positive deviance, yaitu pendekatan berbasis masyarakat berdasarkan pengalaman nyata yang telah dilakukan oleh seseorang atau kelompok dan ditularkan kepada yang lain. Pengalaman positif yang telah dilakukan oleh anggota masyarakat ini terbukti ampuh dan mudah diterima oleh anggota masyarakat yang lain daripada hanya sekadar teori yang berasal dari buku atau seorang pakar sekalipun.

Yayat memberikan contoh tentang cara menghilangkan rasa enek atau mual saat minum obat TB-MDR, yakni dengan cara minum cincau. “Jadi kalo habis minum obat terus minum cincau, jadi eneknya itu ilang dan adem perutnya, enak perutnya, gak panas gitu,” ujarnya dengan gaya ceplas-ceplos.

Pengalaman dari salah satu pasien yang didampingi tentang tips mengurangi rasa mual dan muntah dengan minum cincau itu oleh Yayat dibagikan kepada pasien lain.

Keberadaan kader pendukung seperti Yayat ini berperan besar dalam program pengobatan TB-MDR mengingat TB-MDR merupakan penyakit menular yang berbahaya di masyarakat. Masih banyak warga masyarakat belum terpapar informasi mengenai TB-MDR ini. Padahal, cara penularannya sangat mudah, yaitu melalui udara bebas dan masa pengobatannya yang lama sekitar 19-24 bulan. Berita baiknya, pasien TB-MDR bisa sembuh jika didampingi dengan hati. Yayat telah membuktikan hal itu. (*)