Halo tamu , Login

Nurheli, Separuh Hidupnya untuk Berbagi

Nurheli

Nurheli, Kader TB CEPAT-LKNU Jakarta Pusat

Berjalan kaki menyusuri kampung, melewati gang sempit yang padat penduduk di bawah teriknya sang mentari tentu bukanlah hal yang mudah bagi orang yang tengah lanjut usia.
Namun hal tersebut tak menjadi masalah bagi Nurheli  (63 tahun) untuk tetap semangat masuk dari rumah ke rumah untuk mencari suspek dan mendampingi pasien TB.

Nurheli merupakan salah seorang kader CEPAT LKNU Kelurahan Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Perempuan yang kerap kali dipanggil Bu Hajjah oleh warga sekitar memang tak diragukan lagi keseriusannya dalam membantu sesama. “Sudah 36 tahun saya menjadi kader Posyandu, sekarang sebagai koordinator Jumantik, memantau jentik sekaligus kasih informasi tentang TB,” tutur Nurheli dengan senyum mengembang.

Diawali dari keaktifannya sebagai kader Posyandu, lalu ada teman yang mengajaknya untuk mengikuti pelatihan kader CEPAT LKNU, dan sejak Maret 2014, ibu dari 4 orang anak ini telah bergabung sebagai kader TB CEPAT LKNU. Baginya, kader merupakan ujung tombak pengendalian TB di masyarakat. Dia menyampaikan bahwa pasien ditangani oleh dokter saja tidak cukup. Perbandingan jumlah dokter dengan orang yang sakit TB tidak seimbang. Dokter juga tidak mungkin masuk ke rumah-rumah pasien untuk mendampingi. Berbeda dengan kader yang biasa bermasyarakat dan kehadirannya lebih mudah diterima oleh pasien.

Selama kurang lebih 2 tahun Nurheli menjadi kader CEPAT LKNU telah 10 orang pasien TB yang didampingi hingga sembuh. Nurheli sangat telaten mendampingi para pasien TB dan hal tersebut dilakukannya dengan tulus tanpa pamrih. “Saya pengin membantu, kalau kader kan sosial dan banyak yang gak mau, kalau hanya mengandalkan dari orang Kelurahan saja ya pasti gak ada yang turun. Kader kan gak digaji, gak dapet apa-apa, paling dapat transport sekedarnya, ya sukarelawan gitu,” ungkapnya dengan nada penuh ketulusan.

Kegiatan untuk menemukan suspek yang kerap dilakukan perempuan asli Padang ini yaitu dengan jalan memutar ke rumah-rumah warga sembari memberikan brosur dan menjelaskan mengenai bahaya penyakit TB, bagaimana gejala orang yang terkena TB, bagaimana orang bisa tertular penyakit TB dan pencegahan penularan TB. Pada brosur dituliskan nomor handphone Nurheli supaya kalau ada orang yang mempunyai gejala bisa menghubunginya. Melalui cara tersebut ada orang yang telpon bahwa ada gejala lalu diberilah surat pengantar untuk periksa ke Puskesmas terdekat.

Berdasar pengalamannya saat memberikan sosialisasi mengenai TB, ternyata banyak orang yang awalnya belum tahu bahwa TB itu adalah TBC, dan TB merupakan penyakit yang berbahaya, namun demikian TB sebenarnya bisa disembuhkan dengan berobat rutin selama 6 bulan.

Hingga kini, Nurheli telah menemukan 22 suspek TB. “TB sekarang sudah menjadi prioritas di masyarakat, karena masyarakat sudah sadar bahayanya TB, karena sosialisasi dari kader dengan kader ngasih pengarahan ke warga sehingga tahu bahaya dan akhirnya mau berobat,” pungkasnya, sebagai tanda kepuasan Nurheli yang telah berhasil memutus mata rantai penularan penyakit TB. (Elina/Jakarta)