Halo tamu , Login

Kesempatan Hidup untuk kedua kalinya

Dawati, pasien TB MDR sembuh. Foto HR

Dawati, pasien TB MDR sembuh. Foto HR

Tubuhnya terlihat ringkih, dengan berat badan tak lebih dari 40 Kg, berwajah tirus, tapi dari matanya terpancar semangat hidup yang menyala-nyala.  Dawati, perempuan 43 tahun ini, telah melampaui cobaan berat dalam hidupnya. Baginya, ini adalah kesempatan hidup yang kedua kalinya yang diberikan Tuhan kepadanya. Dan dia tak akan mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Dawati merupakan pasien TB Resistan Obat (TB MDR) yang menjalani pengobatannya di Puskesmas Kalibaru Jakarta Utara. Dawati lahir pada tahun 1972 dan asli dari Jakarta. Kegiatan sehari-harinya membantu kakaknya berjualan es batu. Tangannya terlihat kurus, tapi terampil dalam membungkus air untuk dijadikan es batu. Kegiatan itu tak begitu mengeluarkan banyak tenaga sehingga tetap bisa dia lakukan meskipun sedang menjalani pengobatan.

Pertama kali menyadari dirinya menderita penyakit TB-MDR, Dawati merasa sangat kaget. Tak nyangka dirinya bisa terkena penyakit itu. Ada perasaan takut,  tak tahu harus berbuat apa.  Awalnya Dawati terkena TB biasa, tapi kemudian dia lalai dalam meminum obat, hingga akhirnya pada bulan Mei 2014 Dawati divonis terkena TB MDR dan harus menjalani pengobatan dalam waktu  panjang.  Hal ini tak pernah terlintas dalam benaknya, menanggung beban yang berat sebagai pasien TB MDR.

Selama 18 bulan, Dawati selalu rajin minum obat TB-MDR setiap hari, sebanyak 13 butir. Kelalaiannya pada masa lalu tak mau dia ulangi lagi. Dia berusaha untuk menelannya sedikit demi sedikit hingga bisa tertelan semua obat tersebut. Obat Anti Tubrkulosis (OAT) yang diminum kali ini tak main-main, dengan efek samping yang ringan hingga berat. Adalah hal biasa, manakala setiap kali minum OAT, ada perasaan mual hingga muntah, perut rasanya panas dan seperti menolak jika diberi makanan. Efek paling berat yang dia alami, dan berdampak hingga saat ini ketika dia dinyatakan sembuh, adalah berkurangnya fungsi pendengaran.

Beban berat selama 18 bulan pengobatan itu dia lalui dengan tabah, meskipun selama dia sakit, banyak tetangga yang menghindar darinya. Namun Dawati merasa bersyukur, mendapatkan dukungan moril dari kedua kakak dan seorang keponakannya, yang tinggal serumah dengannya. Kakaknya yang laki-laki selalu memantau Dawati minum OAT, sedangkan kakak perempuan memantau Dawati dalam meminum obat maag. Hal ini menjadi motivasi tersendiri bagi Dawati untuk bisa segera sembuh dari penyakitnya.

Selain, kedua kakaknya itu, Dawati juga mendapat dukungan dan motivasi luar biasa dari kader CEPAT LKNU yang selalu memantau perkembangan kesehatannya. Kader Yayat, selalu memberikan motivasi tiap kali datang kerumahnya. Dukungan juga datang dari petugas Puskesmas Kalibaru yang siap  menyediakan ambulans Puskesmas untuk membawa Dawati ke RS. Persahabatan, manakala keadaan kesehatan tak memungkinkan dirinya dibonceng sepeda motor untuk tes dahak atau jika ada hal yang diperlukan.

Dukungan yang dia dapatkan dari keluarga, kader, dan petugas kesehatan, membuat Dawati bangkit dari keterpurukannya. Terlebih lagi saat Dawati datang ke RS. Persahabatan dan bertemu dengan pasien lain yang baru menjalani pengobatan. Ada perasaan bersyukur karena sudah bisa melalui beban berat selama berbulan-bulan. Dia ingin berbagi atas apa yang dialaminya kepada  sesama pasien TB MDR, memotivasi teman-temannya untuk berobat sampai tuntas.

Perempuan asli Jakarta ini mengambil hikmah dari penyakit yang menimpanya, “Saya sakit karena Tuhan menegur saya dengan kasih sayang. Tuhan telah memberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya. Dan kesempatan hidup yang kedua ini tak akan saya sia-siakan.”

Kini, setelah dinyatakan sembuh oleh RS Persahabatan, Dawati giat  berpesan kepada teman-teman sesama penderita TB-MDR yang masih menjalani pengobatan untuk disiplin minum OAT dan tak boleh lalai barang sehari pun.  “Apapun resikonya, bagaimanapun beratnya yang dirasakan harus tetap minum obat, kita harus menjadi dewa penolong untuk diri kita sendiri.” (Elina, Jakarta).