Halo tamu , Login

Desa Siaga Aktif Sidomulyo

????????????????????????????????????

Kantor Desa Sidomulyo. Foto HR

Desa Sidomulyo, terletak di Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Berpenduduk 5.500 jiwa, yang tersebar di 5 dusun. Saat ini, Desa Sidomulyo dipimpin oleh Damam Hidayat, yang sudah menjabat selama 2 tahun. Kepala desa yang mengaku hanya tamatan SD ini, terbukti mampu mengerakkan segala potensi desanya dengan segenap kemampuan yang mereka miliki, termasuk program Desa Siaga Aktif. Dengan gaya kepemimpinan merakyat, setiap bulan Damam Hidayat berkeliling dari satu dusun ke dusun yang lain untuk mengadakan gotong-royong bersih-bersih desa, sang kepala desa mampu menyerap aspirasi rakyat, langsung dari tangan pertama, bukan hasil laporan staf yang ABS (Asal Bapak Senang).

Berkat kepemimpinan Damam Hidayat  dan juga berkat kepemimpinan  Nani Sri Wilujeng, yang berperan sebagai ketua Desa Siaga Aktif, kini Desa Sidomulyo telah memiliki Desa Siaga Aktif. Sebagai program yang menyasar kesehatan, Desa Siaga Aktif mendapat dukungan penuh dari Bidan Desa Erni Ekawati.  Ketika pertama kali CEPAT-LKNU Kediri bermaksud menambah program pengendalian tuberculosis, di bawah naungan Desa Siaga Aktif, Nani Sri Wilujeng menyambutnya dengan tangan terbuka.

Kini, Desa Sidomulyo, telah memiliki program pengendalian tuberculosis, di bawah pimpinan Bidayah, yang menjabat sebagai koordinator TB.  Semenjak menjalankan program TB, dengan menerima dana pancingan dari CEPAT-LKNU, pada 13 Mei 2015 yang lalu, Desa Sidomulyo telah mendampingi  8 pasien dan 5 pasien dinyatakan sembuh.

Berbeda dengan desa-desa penerima dana pancingan dari CEPAT-LKNU, Desa Sidomulyo menerapkan kebijakan hanya memberikan dana operasional kader sebanyak Rp.10.000 setiap bulan, dan itupun hanya diberikan untuk 3 bulan sekali. Sedangkan desa-desa yang lain memberikan Rp. 25.000 kepada para kader. Pada awalnya, kebijakan ini cukup memberatkan kader, namun dengan tekad kuat demi keberlangsungan program TB, para kader menerimanya.

Sebagaimana desa-desa yang lain, CEPAT-LKNU memberikan dana pancingan sebesar Rp. 2.500.000 untuk setiap desa. Perinciannya, Rp. 2.000.000 untuk operasional kader terkait program tuberculosis selama 1 tahun.

Sedangkan dana sebanyak Rp. 500.000 dipakai sebagai dana bergulir untuk menggerakkan roda ekonomi bagi masyarakat, caranya dengan meminjamkan kepada usaha-usaha produktif. Desa Sidomulyo telah memutarkan dana bergulir kepada tukang sayur keliling, maupun  bakul jamu, dan mengembalikan untuk jangka waktu 10 minggu dengan bunga 5%. Hasilnya memang belum terlalu banyak. Namun mereka telah mencoba berbuat sesuatu daru situ. Hasil dari perputaran modal itu dipakai untuk pengadaan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) bagi pasien TB, berupa pengadaan telor. “Pasien TB harus selalu terjaga kondisi tubuhnya agar cepat sembuh dan tidak terserang lagi penyakit tuberculosis,” kata Bidayah menjelaskan, sembari menunjukkan foto-foto dokumentasi pemberian PMT pada buku laporan Desa Siaga Aktif.

Masyarakat desa juga mengumpulkan dana sosial, untuk berbagai keperluan, melalui program Desa Siaga Aktif ini. Pengumpulan dana sosial khusus yang tidak hanya digunakan untuk tuberculosis tapi semua isu kesehatan dalam program Desa Siaga Aktif itu. Pihak desa juga sudah memberikan dana kesehatan melalui PKK dan Posyandu, utamanya untuk para kader sebanyak Rp. 15.000 setiap bulan. “Saya jadinya sungkan kalau harus selalu minta dana ke Pak Kepala Desa,” ujar Nani Sri Wilujeng.

Melalui dana pancingan ini, CEPAT-LKNU berharap, masyarakat punya kepedulian dan kemandirian untuk program pengendalian tuberculosis di desa mereka sendiri. (HR/Jakarta)