Halo tamu , Login

Dari Mana Datangnya Keyakinan Itu?

Suryani (Photo HR)

“Obat ibarat sahabat saat sakit, tapi bagaikan musuh ketika sembuh.” ~ Suryani.

Ketika ditemui, Suryani menuturkan kisah hidup dalam menjalani kenyataan yang berat bagi dirinya. Beberapa kali menjalani pengobatan TB menyebabkannya hampir putus asa. Dia telah dua kali putus obat, yakni pengobatan TB lini 1 dan kemudian dilanjutkan dengan TB Resistan Obat (TB-RO). Saat dia berusaha untuk taat menjalani pengobatan TB-RO dan telah berjalan 1 tahun, kabar yang didengarnya justru membuatnya putus asa: hasil tes dahaknya masih positif !

Kabar itu membuat perasaaanya hancur lebur. Dia hanya bisa pasrah akan hidup dan matinya. Ditambah lagi dengan kematian tetangganya karena TB-RO, meskipun menurutnya tetangga tersebut rajin minum OAT.

Suryani kerap menjerit dalam hati tiap kali melihat keluarga kecilnya yang masih sangat membutuhkan kehadiran dirinya. Kedua anaknya yang masih kecil berumur 4 tahun dan 2,5 tahun sangat membutuhkan kasih sayang Suryani dan juga suaminya yang begitu sabar dan selalu mengantarkan Suryani ke rumah sakit disela-sela waktu istirahat bekerja.

Pengobatan yang panjang menyebakan Suryani pada suatu saat merasa muak minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang jumlahnya lebih dari 10 butir yang harus ditelan setiap hari selama lebih dari dua tahun masa pengobatan dan juga dan ditambah lagi dengan efek samping pengobatan yang berat.

Pada saat Surayani sangat putus asa dan tak tahu harus berbuat apa, Suryani mendapat kunjungan relawan TB-RO dari Pejuang Tangguh (PETA) yang datang bersama perawat Puskesmas Pademangan dan kader pendukung TB-RO. Kedatangan mereka bak menghadirkan kekuatan baru bagi Suryani. Sangat terngiang perkataan Binsar Manik, mantan pasien TB RO yang sekaligus relawan PETA— yaitu “kamu lihatlah anak-anak yang masih kecil, umurmu juga masih muda.”

Suryani kemudian bercermin pada Binsar bahwa diapun juga bisa sembuh. Apalagi jika dia mengingat teman sesama pasien TB-RO yang meskipun sudah tua bahkan ada yang usia senja, tapi masih tetap semangat berobat. Seketika itu juga, muncul keyakinan dalam dirinya untuk sembuh dari penyakitnya dan menyebabkannya mau meneruskan pengobatan dan berjuang melawan penyakitnya.

Selang seminggu kemudian, Suryani melakukan pemeriksaan ulang di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, dan dinyatakan sebagai pasien TB-XDR pada bulan April 2016. Meski terasa pahit dan getir disaat mendengarkan penjelasan dari dokter, namun keyakinannya untuk sembuh begitu kuat hingga dia bersedia untuk menjalani pengobatan sebagai pasien TB-XDR. Setelah menjalani rawat inap selama 2 minggu pengobatan dilanjutkan dengan rawat jalan di RS. Persahabatan setiap hari.

Perempuan kelahiran Jakarta ini, sekarang sudah terbiasa untuk pergi ke Rumah sakit sendiri, kadang naik ojek atau naik bus . Efek samping obat sudah tak begitu ia khawatirkan, karena baginya obat bukan lagi benda asing, namun obat sudah menjadi bagian penting dari hidupnya selama dia sakit. Obat yang selama ini seperti musuh, saat ini bagai sahabat baginya. Dia makin yakin bahwa dirinya pasti bisa sembuh dari penyakitnya.

Saat ini Suryani telah menjalani pengobatan TB-XDR selama 6 bulan dan tubuhnya terlihat sehat bugar. Pernah sesekali saat akan meminum obat, anaknya yang sulung memaksa membuka kapsul dan menyuapi obat ke Suryani sembari berkata, “Mah, aku bukain ya obatnya, mamah minum nih, kalau mamah gak sembuh, kakak sama siapa?” kalimat yang membuatnya tersentuh dan semakin membuatnya bertekad untuk tetap menjalani pengobatan. (Elina/Jakarta)